ayah jangan kau bersedih memikirkan lambatnya tumbuh pepohonanmu dan busuknya buah buah di pohonmu.
ini bukan akhir dari usaha mu melawan kerasnya dunia ayah... ini ujian dari Ia yang memberikan kita kehidupan di dunia ini. dahulu ia pernah mengangkatmu ke atas langit bersama burung yang berkicauan.bebas dari tandusnya tanah. dan derasnya arus di lautan. meski terangkatnya engkau ke langit bagaikan bunga mawar yang menyejukkan jika kau meresapi warnanya dan menyakiti bila kau tertusuk durinya.
kini Ia hanya ingin engkau mengetahui bencana di atas permukaan bumi. berharap engkau memberi solusi dan sabar dalam menyeberangi arus sungai itu.
aku tahu engkau menangis meski kau tak mau aku mengetahuinya,karena genap dari seminggu engkau kini menjadi yatim piatu. biarlah mereka yang mendidikmu kini kembali kepangkuan Ia yang menggenggam langit dan bumi. aku pasti berdoa untuk mereka yang rindu akan peluk anak anaknya.
aku... keturunan generasi kedua dari ibumu memiliki firasat lebih terhadap mereka sejak lama sebelum engkau dan saudara saudaramu mengetahuinya. aku tidak ingin memberi tahu kalian. karena aku anggap firasat itu tidak benar. tapi Ia berkata berbeda dengan ku yang penuh keterbatasan.
ingat ayah...Ia akan selalu menjagamu. Ia tidak akan mengguyurmu dengan air terjun yang berat itu. tapi ia hanya mengguyurmu dengan air hujan dimana ada hikmah dan keberkahan di dalamnya.
aku mengerti kini engkau tersudut kembali dengan perang dingin kehidupan di negeri ini.
aku dan keturunanmu yang lain ingin sekali membantu. tapi lihat aku dan adik adikku ayah?
apa yg kini bisa kami lakukan selain mendoakan dan memberimu asa baru?
ayah aku selalu ingat perkataanmu. tugas kita di tanah ini adalah berikhtiar dan bertawakal, tinggal Allah lah yang meridhoinya..
ingat ayah doa kami selalu menyertai keringat perjuanganmu. dan kami berjanji tidak akan menyiakan keringatmu.
terimakasih ayah engkau sebagai nahkoda di dalam pelayaran keluarga ini telah mendidik kami semua untuk perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. engkau tidak hanya mengajarkan kami tentang cara berjalan di dunia yang fana ini, tetapi engkau juga telah mengajarkan kami tata cara berjalan di dunia yang abadi nanti.
mungkin kali ini pohon yang kau tanam sedang menyerap segarnya air yang ada di dalam tanah yang subur itu.mungkin nanti pepohonan yang kau tanam akan memberikan kehidupan dan udara segar bagi makhluk dan lingkungannya.
ayah... teruslah memandang kedepan. semoga Ia yang menjawab doa hambanya akan memudahkan engkau dalam setiap goresan tinta mu dan bertumbuhnya pepohonanmu.
Thursday, October 21, 2010
balasan surat untuk ayahku tersayang
surat yang tak kunjung tiba
aku yang hidup di dunia ini tak kurang dari setengah abad lamanya.
sering sudah raga merasakan kencangnya arus dan kerasnya terumbu karang di lautan.
tak pernah kulupakan ayunan sepeda onthelku disaat perang perekonomian menyudutkan diriku.
pahitnya hina dan perihnya duka yang merekalukiskan dihatiku, tak menjadikanku jatuh kejurang kehancuran.
teriakan di dalam perutku sesaat membuatku bisu akan semangatku. tapi demi saudara juga masa depanku kebisuan itu ramai oleh soraksorai dari asaku yang menggebu gebu.
meski orang tua lelakiku dahulu menyuruhku untuk berhenti memupuk ilmu karena ia tak mempu memberikan cangkul kepadaku. tetapi aku tetap berlari dengan kekesalanku meski dulu ku tak punya cangkul untuk memupuk pepohonanku.
tetapi tanganku akan terus menggali berharap tumbuhnya pohon itu berbuah manis.
sedikit demi sedikit aku menggali tanah yang bercampur bebatuan itu. saat aku tak memiliki daya dan upaya. aku berserah diri kembali kepada Ia yang selalu melihat dan menilai pekerjaanku di muka bumi.
meski dahulu aku harus berkeliling kampung untuk mengantarkan koran-koran yang rapuh akan derasnya hujan di saatku mengayuh sepeda onthelku . dan sepulangnya aku harus membantu ibuku menjaga adik adikku yang belum mengerti akan kerasnya kehidupan di negeri ini. tetap saja aku tidak mau berhenti untuk menggali tanah itu hingga akhirnya pepohonan itupun kutanam di tanah ini.
hingga beberapa bulan kemudian puncak dari pohon-pohon kecil itu mulai muncul dari bawah tanah. hatiku pun gembira akan hadirnya hasil dari bibit yang ku tanam. hingga berlanjutnya waktu pepohonan itu mulai berbuah. memang di tahun pertama pepohonan itu berbuah sangat manis dan lezat. banyak yang bisa menikmati buah dari pepohonan itu.
tetapi buah buah di pepohonan itu kini banyak yang membusuk..
aku bingung harus berbuat apa. kini aku lemah akan sisa asa yang ku miliki.
aku kecewa.. apa yang salah dengan pohonku yang dahulu merindangi pekarangan rumahku?
sampai beberapa waktu ibuku mengalami sakit keras. hingga butuh biaya yang sangat besar. aku hanya berharap kesembuhan dari Yang Maha Kuasa untuk ibuku sambil menjual buah buah dari pohonku yang masih dapat di konsumsi dengan layak.
dan ternyata Ia bekata berbeda. mungkin Ia lebih mencintai ibuku di bandingkan dengan makhluk makhlukNya di dunia. di hadapan adik adik dan ayahku aku tidak dapat meneteskan air mata. meski sebenarnya di dalam hatiku air mataku mengucur hingga memadamkan api penyesalan belum bisa membahagiakan ibuku di dunia.
tapi aku tidak mau kesedihan itu tak berangsur lama. hingga aku kini sangat menjaga dan menghargai orang tua lelakiku. aku merawatnya bersama saudara-saudaraku berharap ia tak terlalu merasa kehilangan pengurusnya sejak akad nikah dahulu.
akan tetapi Yang Maha Perkasa kembali berkata. tak lama selang seminggu ibundaku meninggal
kini ia yang merangkulku dari kesedihan karena kepergian ibundaku harus ikut menyusul ibundaku kepangkuanNya. kali ini aku sudah tak tahan lagi menahan isak tangis yang bergejolak di dalam batinku. akupun menangis hari bersama adik-adikku di depan jasad ayahku yang pulang secara tiba-tiba. hingga aku dan saudara-saudaraku merasakan hantaman batin yang sangat keras. kini kamipun yatim piatu. bukan tidak mengenal ayah juga ibu. tapi tanpa pelukan mereka kami merasa beku akan dinginnya malam yang gundah ini.
detik demi detik...
menit demi menit...
hari berganti hari.. tak ingin kulewatkan hanya dengan memikirkan goresan hati yang terbekas dari ujian Ilahi. aku kembali mengambil air di dalam sumur tua di belakang rumahku. dan lekas ku menyembah Tuhanku dan kembali memupuk pepohonku yang mungkin akan memberikan kerindangan dan buah buahan yang berguna untuk keluargaku dan lingkungan di sekitarku...
Friday, September 3, 2010
pemimpin ku yang manis dari bangsa yang terpuji
Di lantai ini..
aku tidak ingin menceritakan tentang tanah yang bertabur duri.
Air yang berlimpah hingga membanjiri.
dan sawah yang menompang kokoh sang gunung.
sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Rakyat berlari menarik benang sang Ilahi.
Berdoa agar runtuhnya tembok bangsa ini tidak terjadi lagi.
Tetapi pria berkulit buaya dengan tenang pergi kesana kemari.
dengan uluran tangan dari lelaki bertopi sejuta mimpi.
kini mosi sudah sudah tak percaya lagi.
akibat sang pemimpi sudah tak dapat mengasihi.
kini mosi sudah tak dapat menahan emosi.
karena sang pemimpi tak dapat membangun negeri.
ingin tubuh rapuh ini untuk membangun negeri.
namun awan kelabu terlalu luas menutupi matahari di atas negeri ini.
sobat bantulah aku dengan memberikan sebatang cahaya lilin.
cahaya yang mungkin dapat bersinar di bangsa yang mati ini.
Sunday, August 22, 2010
doa dari yasin
jikalau gunung memerlukan pepohonan untuk ke kokohannya. dan para hewan yang berlarian untuk menemaninya.
bagaimana dengan aku? manusia hina yang hanya terus berlutut di balik tudung dzat yang menjawab doaku.
aku mungkin tidak bisa menarik benang siang dengan malam dan menebar rintik air dari langit.
tetapi aku yakin ia yang menggenggam langit dan bumi akan terus melindungiku.
kini aku yang di tinggal selimutku yang kekal kehangatannya di dunia sejak belia,
rapuh akan kenangan yang ia tinggalkan di benak fikiranku yang terbatas jurang kehidupan.
remukan tanah yang kini tertuliskan nama manusia yang ku kasihi di batu berpalang dua alam meremukan pula hatiku yang sepi akan kasih sayangnya.
tapi aku harus tetap bangkit meski air mata masih menetesi bagai rintik hujan yang menggenangi hutan tak berteman dengan pepohonan.
meski aku sendiri tak tahu bagaimana caranya.
hanya saja aku terus mengingat pesannya untuk tetap melangkahkan kaki di jalanNya.
juga terus berdoa untuknya sambil berusaha untuk membangun pundukan ilmu untuk kehidupan di masa depan. dan bukan hanya menangis untuknya
Saturday, July 24, 2010
temanku manis. jangan menangis
memang benar berat rasa hati menjalani hidup yang penuh kerindangan oleh dusta yang membelantara.
ku tahu meski kini engkau terus tersenyum, hatimu tetap menelan pahitnya duka yang di tinggal mati oleh cinta.
terbangunnya engkau dari lelapmu yang terus mencari arti yang hnigga kini belum kau mengerti.
lolongan keras dari dalam hatimu yang remuk redam, tak sanggup lagi untuk kau tahan karena hujaman derita yang sebenarnya tidak ingin kau suarakan.
namun matamu sudah di banjiri oleh luapan air mata dahaga yang rindu akan getara hatimu.
nafasmupun sudah tersendat oleh hembusan duka yang memilukan harimu.
aku manusia hina yang tak dapat mengubah dunia yang fana ini hanya dapat mendoakanmu dan membantumu dalam keikut sertaanku.
semoga cepat datang tabib yang dapat mengobati luka hatimu.
dan ku hanya ingin memperlihatkan kepada engkau dunia dimana hasrat dan kobaran api cinta akan terhembus bebas ke angkasa.
dimana engkau dapat merobek lembaran mimpi burukmu sebagai kenangan yang harus kau pelajari. bukan engkau tangisi.
dan kuingin kau terbangun dari lelapmu yang terus diiringi tikaman duka kehidupanmu.
